INILAH FAKTOR KENAPA IMPLEMENTASI TIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA SELALU MENGALAMI KENDALA

INILAH FAKTOR KENAPA IMPLEMENTASI TIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA SELALU MENGALAMI KENDALA
INILAH FAKTOR KENAPA IMPLEMENTASI TIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA SELALU MENGALAMI KENDALA
Penerapan dan Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi memang perlu untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Selain karena  untuk mendukung pembelajaran, TIK merupakan tools yang dapat melakukan kolaborasi antara tenaga pengajar dengan siswa, sehingga ke dua stakeholder tersebut saling bekerja sama dan berinteraksi dengan tujuan materi pembelajaran yang telah di berikan oleh guru atau tenaga pengajar akan kena sasaran dan tercapai target yang diinginkan.

Namun, implementasi dan penerapan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia sendiri sering terbentur oleh kendala-kendala teknis maupun non-teknis, sehingga penerapan pembelajaran berbasis TIK tidak bisa diimplementasi atau sudah diimplementasi tetapi hasilnya kurang maksimal.

Beberapa kendala dalam menerapkan dan mengimplementasikan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di pendidikan Indonesia adalah sebagai berikut :,

Keterbatasan Kuantitas Sumber Daya Pendidikan



Berdasarkan fakta yang ada, negara Indonesia yang berpenduduk sekitar 250 juta jiwa ini memiliki permasalahan yang sangat kompleks di bidang pendidikan. Seakan-akan masalah tersebut tidak memiliki ujung penyelesaian yang terbuka. Keterbatasan jumlah guru dan dosen dengan kualifikasi pendidikan tertentu, terbatasnya jumlah sekolah bermutu yang dapat diandalkan, terbatasnya jumlah perpustakaan, dan kesempatan mengenyam pendidikan bagi masyarakat sangat terbatas, selain itu jumlah laboratorium yang sesuai standar mutu internasional yang dapat digunakan sebagai tempat praktek lapangan jumlah nya sangat terbatas.

Solusi dari permasalahan yang telah dipaparkan diatas adalah, dengan membangun jaringan kerjasama antar sekolah melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi seperti yang telah dipaparkan dalam artikel-artikel sebelumnya, maka keterbatasan tersebut dapat ditanggulangi dengan memanfaatkan metode shared resources, atau konsep berbagi sumber daya.

Kesenjangan Kualitas  Sumber Daya Pendidikan



Masalah yang terkait hal ini, yang baru-baru ini sedang diberitakan di media massa maupun media cetak adalah, keterbatasan jumlah sekolah-sekolah / institusi pendidikan yang mendapat nilai akreditasi A. tidak banyak sekolah-sekolah atau instansi pendidikan yang masuk dalam kategori sekolah nasional plus. Hal tersebut menandakan bahwa, masih banyak sekolah-sekolah atau instansi pendidikan di negara Indonesia yang kualitasnya masih dibawah standar.

Sekolah-sekolah yang tidak masuk kedalam kategori sekolah nasional plus ini kondisinya masih menghawatirkan. Mereka tidak memiliki fasilitas yang memadai, peralatan dan fungsionalitas perpustakaan yang jauh dari kata layak, jumlah buku-buku atau jurnal internasional maupun nasional yang tersedia di sekolah-sekolah tersebut sangat kurang, apalagi dengan ketersediaan jaringan internet atau peralatan computer untuk tujuan praktek yang bisa dibilang very poor membuat ketidak nyamanan peserta studi yang bersekolah di sekolah-sekolah tersebut sehingga output dari prestasi yang dihasilkan juga sangat rendah.

Ketidak Merataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan


Dari ulasan yang telah saya jelaskan diatas, mulai dari kesenjangan kualitas sumber daya pendidikan, dan kuantitas institusi pendidikan yang kurang berstandar nasional, maka muncullah problem selanjutnya yaitu tidak meratanya kesempatan mengenyam pendidikan bagi putra-putri bangsa.

Kita bisa melihat pada pembukaan UUD 1945 pada alinea 4 disebutkan bahwa kecerdasan adalah hak segala bangsa, apa artinya ?, artinya adalah setiap warga negara Indonesia berhak mengenyam pendidikan yang layak. Meskipun polemic pendidikan di Indonesia yang mahal sehingga tidak banyak putra-putri bangsa yang tidak bisa merasakan manisnya bangku sekolahan, atau justru mereka yang memiliki cukup uang untuk sekolah namun , justru kesempatan untuk sekolah tersebut di sia-siakan.

Salah satu metode untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan mengajukan metode Universitas Terbuka, Sekolah Terbuka atau Perpustakaan Terbuka. Dengan cara-cara tersebut, dapat mengurangi angka kebodohan dan kemiskinan. Karena siapapun bisa merasakan pendidikan dan mendapatkan materi pelajaran yang sama dengan institusi pendidikan formal dengan tidak mengeluarkan biaya alias gratis.

Unik nya program Sekolah Terbuka, Universitas Terbuka atau Perpustakaan Terbuka mampu menjangkau ke setiap pelosok daerah, dimana daerah tersebut belum memiliki fasilitas listrik, kondisi jalanan yang becek, belum ada jaringan telpon atau internet. Meskipun belum ada jaringan listrik dan jaringan telpon/internet, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil masih dapat mengenyam pendidikan di Sekolah Terbuka, Universitas Terbuka, atau Perpustakaan Terbuka dengan menggunakan media pembelajaran berbasis TIK, dengan menggunakan peralatan Laptop dan generator listrik.

 Meskipun tanpa internet, hanya dengan laptop dan beberapa program media pembelajaran interaktif yang telah tersedia.

Model dan Pendekatan Pendidikan yang Kurang Relevan

Semakin pesat dan cepatnya pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi,yang mengakibatkan perubahan perilaku manusia, sehingga manusia dituntut untuk dapat memahami teknologi. Seperti yang telah disinggung sebelumya pada artikel sebelumnya, mengenai perkembangan teknologi yang membuat situasi dunia kerja lebih kompetitif, sehingga menuntut para siswa agar lebih kritis, kreatif dan inovatif menggunakan peralatan teknologi seperti computer,laptop, atau gadget lain nya.

Kendalanya adalah, kebanyakan system pendidikan di Indonesia yang dianut oleh mayoritas sekolah belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya pembelajaran berbasis IT tersebut, sehingga seperti yang saya bilang pada artikel sebelumnya, metode pembelajaran yang membosankan lah yang masih dipakai hingga sekarang, menghilangkan peran kolaborasi antara guru dengan siswa.


Selain itu terdapat beberapa alasan yang banyak dikemukakan oleh institusi pendidikan, mengapa mereka lamban atau tidak sama sekali menerapkan TIK dalam pembelajaran adalah mahal nya kebutuhan investasi pengadaan sumber daya yang dibutuhkan..

Artikel Selanjutnya : SISTEM PENDIDIKAN YANG TERBELAKANG DAN METAFORA KERETA API DI DALAM REL
Powered by Blogger.